Akhir-akhir ini kita menyaksikan bahwa kaum muslim Palestina sedang diembargo oleh Israel. Berita terakhir mengenai ………………. Setidaknya ada dua pelajaran berarti dari penderitaan rakyat Palestina. Pertama, dapat dijadikan salah satu contoh bahwa konsolidasi eksternal umat Islam belum terbangun dengan baik.
Kedua, konsolidasi internal Palestina yang dipimpin oleh HAMAS belum cukup untuk melakukan perlawanan terhadap Israel. Sebenarnya hanya ada satu jalan untuk mengatasi penindasan terhadap negeri-negeri Muslim, yaitu menguatkan kembali konsolidasi eksternal antara negara-negara Muslim.
Adakah umat Islam di Indonesia yang mulai bereaksi terhadap kenyataan ini? Terhadap apa yang telah dilakukan oleh Zionis Israel kepada saudara kita sesama umat muslim? Jawabannya ada, misalnya saja, di Yogyakarta sendiri telah banyak pihak Intelektual, seperti mahasiswa, bahkan berbagai ormas Islam ikut partisipasi dalam ‘aksi’ hingga penggalangan dana. Semoga aksi yang telah dilakukan tidak hanya sebatas kecaman, kritik, amarahnya yang muncul namun tak berdaya.
Lantas, apakah reaksi kita sebagai umat muslim yang ingin menunjukkan sikap empati terhadap saudara kita di Palestina hanya sebatas ikut aksi? Sebagai mahasiswa,,,,,,…sebagai pemerintah,,,,,,,,,,
Selasa, 19 Oktober 2010
Selasa, 21 September 2010
Kisah seorang remaja
Bagaimana perasaanmu ketik tersadar bahwa keluargamu tidak bisa rukun kembali??Tanyaku pada seorang remaja yang sedang bermurung hati..
"Untuk pertama kali,,aku terhenyak, tak bisa bangkit lagi. Ibarat rusa ditengah hutan yang jatuh terpanah oleh pemburu hewan liar. Tak kuasa untuk berlari. Begitu juga perasaanku,, aku tak kuasa untuk berlari dari masalah ini. Aku harus menghadapinya. Betapa tidak, Aku hanyalah seorang remaja yang tak tahu apa-apa, seorang anak dari sebuah keluarga yang dihadapkan pada masalah pelik keluarganya.
Sebenarnya aku bukanlah orang yang suka lari dari masalah. Aku ingin menghadapai kenyataan ini, menghadapi situasi keluarga yang retak ini. Meski aku hanyalah seorang anak yang tak berdaya, yang setiap kata-katanya tak pernah didengar, yang masukannya tak bermutu, yang sarannya dianggap sebagai kata-kata yang menggurui.
Apakah Dia akan membiarkan keadaan ini berlarut-larut? Apakah mereka tetap mau menjalani kehidupan berkeluarga seperti ini? Mengapa pintu hati mereka belum terketuk samasekali untuk membuak perasaan satusama lain? Bagaimana caranya menyatukan dua hati yang tidak pernah seiya sekata, yang tak pernah saling mendukung, tidak pernah saling memuji. Saling memberi senyuman pun tak pernah. Apakah ini masih bisa disebut keluarga yang sehat? Atau malah pntasnya disebut sekarat?
Aku hanya ingin meringankan kembali pikiranku. Me-refresh-kan kembali minyak yang melumasi otak pikiranku. Sudah terlalu banyak beban hidup, beban moral yang kuhadapi. Bukannya ingin lari dari masalah. Mungkin sebagian orang beranggapan demikian. Tapi, yang penting sebenarnya aku tak bermaksud seperti itu. Aku berharap setelah aku meringankan pikiranku, aku bisa kembali mengurangi permasalahan, perlahan-lahan tapi pasti. Aku ingin merasakan nikmatnya duniaku."
Yah, demikianlah sebuah pengakuan dari seorang anak yang sedang mengalami tekanan batin karena permasalahan keluarganya. Oleh karena itu, bagi anda yang memiliki keluarga yang masih terjalin dengan baik, bersyukurlah dengan cara terus menjaga hubungan baik itu. Karena dengan menjaga hubungan, akan tercipta keluarga yang baik, jika tercipta keluarga yang baik, maka terbentuk masyarakat yang terntram menuju bangsa dan Negara yang sejahtera.
"Untuk pertama kali,,aku terhenyak, tak bisa bangkit lagi. Ibarat rusa ditengah hutan yang jatuh terpanah oleh pemburu hewan liar. Tak kuasa untuk berlari. Begitu juga perasaanku,, aku tak kuasa untuk berlari dari masalah ini. Aku harus menghadapinya. Betapa tidak, Aku hanyalah seorang remaja yang tak tahu apa-apa, seorang anak dari sebuah keluarga yang dihadapkan pada masalah pelik keluarganya.
Sebenarnya aku bukanlah orang yang suka lari dari masalah. Aku ingin menghadapai kenyataan ini, menghadapi situasi keluarga yang retak ini. Meski aku hanyalah seorang anak yang tak berdaya, yang setiap kata-katanya tak pernah didengar, yang masukannya tak bermutu, yang sarannya dianggap sebagai kata-kata yang menggurui.
Apakah Dia akan membiarkan keadaan ini berlarut-larut? Apakah mereka tetap mau menjalani kehidupan berkeluarga seperti ini? Mengapa pintu hati mereka belum terketuk samasekali untuk membuak perasaan satusama lain? Bagaimana caranya menyatukan dua hati yang tidak pernah seiya sekata, yang tak pernah saling mendukung, tidak pernah saling memuji. Saling memberi senyuman pun tak pernah. Apakah ini masih bisa disebut keluarga yang sehat? Atau malah pntasnya disebut sekarat?
Aku hanya ingin meringankan kembali pikiranku. Me-refresh-kan kembali minyak yang melumasi otak pikiranku. Sudah terlalu banyak beban hidup, beban moral yang kuhadapi. Bukannya ingin lari dari masalah. Mungkin sebagian orang beranggapan demikian. Tapi, yang penting sebenarnya aku tak bermaksud seperti itu. Aku berharap setelah aku meringankan pikiranku, aku bisa kembali mengurangi permasalahan, perlahan-lahan tapi pasti. Aku ingin merasakan nikmatnya duniaku."
Yah, demikianlah sebuah pengakuan dari seorang anak yang sedang mengalami tekanan batin karena permasalahan keluarganya. Oleh karena itu, bagi anda yang memiliki keluarga yang masih terjalin dengan baik, bersyukurlah dengan cara terus menjaga hubungan baik itu. Karena dengan menjaga hubungan, akan tercipta keluarga yang baik, jika tercipta keluarga yang baik, maka terbentuk masyarakat yang terntram menuju bangsa dan Negara yang sejahtera.
Senin, 23 Agustus 2010
Ramadhan di Perpus Kota
Wahai teman-teman...
kalian menjalani Ramadhan di Yogja? Tidak ada kegiatan? Jangan khawatir..
Perpustakaan kota punya acara bertema Pesantren Buku, diskusi buku dan talkshow.
Kegiatan ini dilaksanakan dari tanggal 23 hingga 25 Agustus 2010, mulai pukul 14.00-16.00 WIB.
Acaranya menarik...!!dijamin nggak bakal nyesel..
Agendanya: 23 Agustus 2010__Diskusi Buku "Menggugat Tanggung Jawab Agama-Agama Abrahamik Bagi Perdamaian Dunia"
24 Agustus 2010__ Diskusi Buku dan demo: HIPNOSIS dalam pandangan Islam oleh Moch Noer CH.
24 Agustus 2010__Talkshow dan demo: "Kreasi Jilbab Cantik bersama Annisa"
25 Agustus 2010__Pesantren Buku
Disediakan ilmu bagi peserta yang melakukan pendaftaran.
SiiiP!! Tambah ilmu, tambah poengalaman..
kalian menjalani Ramadhan di Yogja? Tidak ada kegiatan? Jangan khawatir..
Perpustakaan kota punya acara bertema Pesantren Buku, diskusi buku dan talkshow.
Kegiatan ini dilaksanakan dari tanggal 23 hingga 25 Agustus 2010, mulai pukul 14.00-16.00 WIB.
Acaranya menarik...!!dijamin nggak bakal nyesel..
Agendanya: 23 Agustus 2010__Diskusi Buku "Menggugat Tanggung Jawab Agama-Agama Abrahamik Bagi Perdamaian Dunia"
24 Agustus 2010__ Diskusi Buku dan demo: HIPNOSIS dalam pandangan Islam oleh Moch Noer CH.
24 Agustus 2010__Talkshow dan demo: "Kreasi Jilbab Cantik bersama Annisa"
25 Agustus 2010__Pesantren Buku
Disediakan ilmu bagi peserta yang melakukan pendaftaran.
SiiiP!! Tambah ilmu, tambah poengalaman..
Rabu, 18 Agustus 2010
Kita tergolong yang mana?
Ada empat tipe manusia berkaitan dengan harta dan gaya hidupnya :
Pertama,orang berharta dan memperlihatkan hartanya. Orang seperti ini biasanya mewah gaya hidupnya, untung perilakunya ini masih sesuai dengan penghasilannya, sehingga secara finansial sebenarnya tidak terlalu bermasalah. Hanya saja, ia akan menjadi hina kalau bersikap sombong dan merendahkan orang lain yang dianggap tak selevel dengan dia. Apalagi kalau
bersikap kikir dan tidak mau membayar zakat atau mengeluarkan sedekah. Sebaliknya, ia akan terangkat kemuliaannya dengan kekayaannya itu jikalau ia rendah hati dan dermawan.
Kedua, orang yang tidak berharta banyak, tapi ingin kelihatan berharta. Gaya hidup mewahnya sebenarnya diluar kemampuannya, hal ini karena ia ingin selalu tampil lebih daripada kenyataan. Tidaklah aneh bila keadaan finansialnya lebih besar pasak daripada tiang. Nampaknya, orang seperti ini benar-benar tahu seni menyiksa diri. Hidupnya amat menderita, dan sudah barang tentu ia menjadi hina dan bahkan menjadi bahan tertawaan orang lain yang mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Ketiga, orang tak berharta tapi berhasil hidup bersahaja. Orang seperti ini tidak terlalu pening dalam menjalani hidup karena tak tersiksa oleh keinginan, tak ruwet oleh pujian dan penilaian orang lain, kebutuhan hidupnya pun sederhana saja. Dia akan hina kalau menjadi beban dengan menjadi peminta-minta yang tidak tahu diri. Namun tetap juga berpeluang menjadi mulia jikalau sangat menjaga kehormatan dirinya dengan tidak menunjukan berharap dikasihani, tak menunjukan kemiskinannya, tegar, dan memiliki harga diri.
Keempat, orang yang berharta tapi hidup bersahaja. Inilah orang yang mulia dan memiliki keutamaan. Dia mampu membeli apapun yang dia inginkan namun berhasil menahan dirinya untuk hidup seperlunya. Dampaknya, hidupnya tidak berbiaya tinggi, tidak menjadi bahan iri dengki orang lain, dan tertutup peluang menjadi sombong, serta takabur plus riya. Dan yang lebih menawan akan menjadi contoh kebaikan yang tidak habis-habisnya untuk menjadi bahan pembicaraan. Memang aneh tapi nyata jika orang yang berkecukupan harta tapi mampu hidup bersahaja (tentu tanpa kikir). Sungguh ia akan punya pesona kemuliaan tersendiri. Pribadinya yang lebih kaya dan lebih berharga dibanding seluruh harta yang dimilikinya, subhanallaah. Perlu kita pahami bahwa zuhud terhadap dunia bukan berarti tidak
mempunyai hal-hal yang bersifat duniawi, semacam harta benda dan kekayaan
lainnya, melainkan kita lebih yakin dengan apa yang ada di tangan Allah
daripada apa yang ada di tangan makhluk. Bagi orang yang zuhud terhadap dunia,
sebanyak apapun harta yang dimiliki, sama sekali tidak akan membuat hatinya
merasa tenteram, karena ketenteraman yang hakiki adalah ketika kita yakin
dengan janji dan jaminan Allah.
Andaikata kita merasa lebih tenteram dengan sejumlah tabungan di bank, saham di
sejumlah perusahaan ternama, real estate investasi di sejumlah kompleks
perumahan mewah, atau sejumlah perusahaan multi nasional yang dimiliki, maka
ini berarti kita belum zuhud. Seberapa besar pun uang tabungan kita, seberapa banyak saham pun yang dimiliki, sebanyak apapun asset yang dikuasai, seharusnya kita tidak lebih merasa tenteram dengan jaminan mereka atau siapapun. Karena, semua itu tidak akan datang kepada kita, kecuali ijin Allah. Dia-lah Maha Pemilik apapun yang ada di dunia ini.
Begitulah. Orang yang zuhud terhadap dunia melihat apapun yang dimilikinya tidak mejadi jaminan. Ia lebih suka dengan jaminan Allah karena walaupun tidak tampak dan tidak tertulis, tetapi Dia Mahatahu akan segala kebutuhan kita, dan bahkan, lebih tahu dari kita sendiri. Ada dan tiadanya dunia di sisi kita hendaknya jangan sampai menggoyahkan batin.
Karenanya, mulailah melihat dunia ini dengan sangat biasa-biasa saja. Adanya
tidak membuat bangga, tiadanya tidak membuat sengsara.
Seperti halnya seorang tukang parkir. Ya tukang parkir. Ada hal yang menarik untuk diperhatikan sebagai perumpamaan dari tukang parkir. Mengapa mereka tidak menjadi sombong
padahal begitu banyak dan beraneka ragam jenis mobil yang ada di pelataran parkirnya? Bahkan, walaupun berganti-ganti setiap saat dengan yang lebih bagus ataupun dengan yang lebih sederhana sekalipun, tidak mempengaruhi kepribadiannya!? Dia senantiasa bersikap biasa-biasa saja. Luar biasa tukang parkir ini. Jarang ada tukang parkir yang petantang petenteng memamerkan mobil-mobil yang ada di lahan parkirnya. Lain waktu, ketika mobil-mobil itu satu persatu meninggalkan lahan parkirnya, bahkan sampai kosong ludes sama sekali, tidak menjadikan ia stress. Kenapa sampai demikian? Tiada lain, karena tukang parkir ini tidak merasa memiliki, melainkan merasa dititipi. Ini rumusnya. Seharusnya begitulah sikap kita akan dunia ini. Punya harta melimpah, deposito jutaan rupiah, mobil keluaran terbaru paling mewah, tidak menjadi sombong sikap kita karenanya. Begitu juga sebaliknya, ketika harta diambil, jabatan dicopot, mobil dicuri, tidak menjadi stress dan putus asa. Semuanya biasa-biasa saja. Bukankah semuanya hanya titipan saja? Suka-suka yang
menitipkan, mau diambil sampai habis tandas sekalipun, silahkan saja,
persoalannya kita hanya dititipi.
Rasulullah SAW dalam hal ini bersabda, "Melakukan zuhud dalam kehidupan dunia
bukanlah dengan mengharamkan yang halal dan bukan pula dengan memboroskan
kekayaan. Zuhud terhadap kehidupan dunia itu ialah tidak menganggap apa yang ada pada dirimu lebih pasti daripada apa yang ada pada Allah. Dan hendaknya engkau bergembira memperoleh pahala musibah yang sedang menimpamu walaupun musibah itu akan tetap menimpamu." (HR. Ahmad).***
Pertama,orang berharta dan memperlihatkan hartanya. Orang seperti ini biasanya mewah gaya hidupnya, untung perilakunya ini masih sesuai dengan penghasilannya, sehingga secara finansial sebenarnya tidak terlalu bermasalah. Hanya saja, ia akan menjadi hina kalau bersikap sombong dan merendahkan orang lain yang dianggap tak selevel dengan dia. Apalagi kalau
bersikap kikir dan tidak mau membayar zakat atau mengeluarkan sedekah. Sebaliknya, ia akan terangkat kemuliaannya dengan kekayaannya itu jikalau ia rendah hati dan dermawan.
Kedua, orang yang tidak berharta banyak, tapi ingin kelihatan berharta. Gaya hidup mewahnya sebenarnya diluar kemampuannya, hal ini karena ia ingin selalu tampil lebih daripada kenyataan. Tidaklah aneh bila keadaan finansialnya lebih besar pasak daripada tiang. Nampaknya, orang seperti ini benar-benar tahu seni menyiksa diri. Hidupnya amat menderita, dan sudah barang tentu ia menjadi hina dan bahkan menjadi bahan tertawaan orang lain yang mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Ketiga, orang tak berharta tapi berhasil hidup bersahaja. Orang seperti ini tidak terlalu pening dalam menjalani hidup karena tak tersiksa oleh keinginan, tak ruwet oleh pujian dan penilaian orang lain, kebutuhan hidupnya pun sederhana saja. Dia akan hina kalau menjadi beban dengan menjadi peminta-minta yang tidak tahu diri. Namun tetap juga berpeluang menjadi mulia jikalau sangat menjaga kehormatan dirinya dengan tidak menunjukan berharap dikasihani, tak menunjukan kemiskinannya, tegar, dan memiliki harga diri.
Keempat, orang yang berharta tapi hidup bersahaja. Inilah orang yang mulia dan memiliki keutamaan. Dia mampu membeli apapun yang dia inginkan namun berhasil menahan dirinya untuk hidup seperlunya. Dampaknya, hidupnya tidak berbiaya tinggi, tidak menjadi bahan iri dengki orang lain, dan tertutup peluang menjadi sombong, serta takabur plus riya. Dan yang lebih menawan akan menjadi contoh kebaikan yang tidak habis-habisnya untuk menjadi bahan pembicaraan. Memang aneh tapi nyata jika orang yang berkecukupan harta tapi mampu hidup bersahaja (tentu tanpa kikir). Sungguh ia akan punya pesona kemuliaan tersendiri. Pribadinya yang lebih kaya dan lebih berharga dibanding seluruh harta yang dimilikinya, subhanallaah. Perlu kita pahami bahwa zuhud terhadap dunia bukan berarti tidak
mempunyai hal-hal yang bersifat duniawi, semacam harta benda dan kekayaan
lainnya, melainkan kita lebih yakin dengan apa yang ada di tangan Allah
daripada apa yang ada di tangan makhluk. Bagi orang yang zuhud terhadap dunia,
sebanyak apapun harta yang dimiliki, sama sekali tidak akan membuat hatinya
merasa tenteram, karena ketenteraman yang hakiki adalah ketika kita yakin
dengan janji dan jaminan Allah.
Andaikata kita merasa lebih tenteram dengan sejumlah tabungan di bank, saham di
sejumlah perusahaan ternama, real estate investasi di sejumlah kompleks
perumahan mewah, atau sejumlah perusahaan multi nasional yang dimiliki, maka
ini berarti kita belum zuhud. Seberapa besar pun uang tabungan kita, seberapa banyak saham pun yang dimiliki, sebanyak apapun asset yang dikuasai, seharusnya kita tidak lebih merasa tenteram dengan jaminan mereka atau siapapun. Karena, semua itu tidak akan datang kepada kita, kecuali ijin Allah. Dia-lah Maha Pemilik apapun yang ada di dunia ini.
Begitulah. Orang yang zuhud terhadap dunia melihat apapun yang dimilikinya tidak mejadi jaminan. Ia lebih suka dengan jaminan Allah karena walaupun tidak tampak dan tidak tertulis, tetapi Dia Mahatahu akan segala kebutuhan kita, dan bahkan, lebih tahu dari kita sendiri. Ada dan tiadanya dunia di sisi kita hendaknya jangan sampai menggoyahkan batin.
Karenanya, mulailah melihat dunia ini dengan sangat biasa-biasa saja. Adanya
tidak membuat bangga, tiadanya tidak membuat sengsara.
Seperti halnya seorang tukang parkir. Ya tukang parkir. Ada hal yang menarik untuk diperhatikan sebagai perumpamaan dari tukang parkir. Mengapa mereka tidak menjadi sombong
padahal begitu banyak dan beraneka ragam jenis mobil yang ada di pelataran parkirnya? Bahkan, walaupun berganti-ganti setiap saat dengan yang lebih bagus ataupun dengan yang lebih sederhana sekalipun, tidak mempengaruhi kepribadiannya!? Dia senantiasa bersikap biasa-biasa saja. Luar biasa tukang parkir ini. Jarang ada tukang parkir yang petantang petenteng memamerkan mobil-mobil yang ada di lahan parkirnya. Lain waktu, ketika mobil-mobil itu satu persatu meninggalkan lahan parkirnya, bahkan sampai kosong ludes sama sekali, tidak menjadikan ia stress. Kenapa sampai demikian? Tiada lain, karena tukang parkir ini tidak merasa memiliki, melainkan merasa dititipi. Ini rumusnya. Seharusnya begitulah sikap kita akan dunia ini. Punya harta melimpah, deposito jutaan rupiah, mobil keluaran terbaru paling mewah, tidak menjadi sombong sikap kita karenanya. Begitu juga sebaliknya, ketika harta diambil, jabatan dicopot, mobil dicuri, tidak menjadi stress dan putus asa. Semuanya biasa-biasa saja. Bukankah semuanya hanya titipan saja? Suka-suka yang
menitipkan, mau diambil sampai habis tandas sekalipun, silahkan saja,
persoalannya kita hanya dititipi.
Rasulullah SAW dalam hal ini bersabda, "Melakukan zuhud dalam kehidupan dunia
bukanlah dengan mengharamkan yang halal dan bukan pula dengan memboroskan
kekayaan. Zuhud terhadap kehidupan dunia itu ialah tidak menganggap apa yang ada pada dirimu lebih pasti daripada apa yang ada pada Allah. Dan hendaknya engkau bergembira memperoleh pahala musibah yang sedang menimpamu walaupun musibah itu akan tetap menimpamu." (HR. Ahmad).***
Selasa, 10 Agustus 2010
Ramadhan datang..!!!!
Ramadhan datang lagi.
Mari SETTING niat kita..
DOWNLOAD sabar gratis…
DELETE dosa ..
APPROVE maaf…
HUNTING pahala sebanyak-banyaknya…
Welcome Ramadhan Great Sale!!!
Jangan lewatkan obral besar-besaran dan discon ampunan dosa besar-besaran, hingga 99%. Serta doorprise Lailatul Qodr hanya 30 Hari…
Mari SETTING niat kita..
DOWNLOAD sabar gratis…
DELETE dosa ..
APPROVE maaf…
HUNTING pahala sebanyak-banyaknya…
Welcome Ramadhan Great Sale!!!
Jangan lewatkan obral besar-besaran dan discon ampunan dosa besar-besaran, hingga 99%. Serta doorprise Lailatul Qodr hanya 30 Hari…
Langganan:
Postingan (Atom)