Jumat, 24 Agustus 2012
Selasa, 14 Agustus 2012
Memorial in KKN
Ramadhan berlangsung.. Banyak sekali cerita yang ingin ku tuliskan.
terutama kisahku dalam menempuh ujian hidup di lokasi KKN.
terutama kisahku dalam menempuh ujian hidup di lokasi KKN.
Dakwah
kita, tidak hanya memerangi orang kafir, tapi juga menjaga agar orang islam
tetap bangga akan agamanya. Kadang, hal ini yang lebih susah, bagaimana
mengajak mereka agar tetap mencintai Islam.
Subhanallah,
ketika silaturahim itu dijalani dengan niatan ikhlas, maka semua akan
mendapatkan kemudahan. Bismillah, aku niatkan untuk tidak main-main di KKN ini.
Murni untuk dakwah.
Bismillah,
optimis semakin terucap. Ternyata tidak semua orang di sini berwatak seperti xxx dan jajaran keluarganya. Ada sosok-sosok orang baik yang menanti kontribusi kami. Semoga menjadi awalan yang baik. Tinggal fokus pada agenda
kemasyarakatannya.Rabu, 27 Juni 2012
Sebuah Karya MahaKarya Roze
Mungkin tidak pernah terpikir dibenakku..
Bahwa suatu saat nanti aku akan memiliki teman yang lebih banyak daripada yang aku bayangkan. Bahkan tidak sekedar menjalin pertemanan. Namun disertai ukhuwah yang begitu hebatnya. Laksana ukhuwah yang telah diajarkan Rasulullah pada para sahabatnya.
dan...
Beginilah caraku..
bagaimana caramu?
video ini telah saya posting di Youtube dengan URL berikut.
http://www.youtube.com/watch?v=7on6liNTMLw&feature=colike
Tulisan ini merupakan surat yang dilayangkan salah satu temanku di milist.
Saya rasa, saya perlu membagikannya pada Anda sekalian.
Assalamu’alaikum
wr wb.
Apa kabar teman? Sudah seberapa banyak rencanamu hari ini? Sudah seberapa banyak pulakah yang terlaksana? Seberapa banyakkah yang akhirnya gagl
dilaksanakan?
Wuiihh..banyak ya temen-temen yang udah abroad…^^^^ keren boo…
Ya, semua pasti bisa jalan-jalan. Karena ikhtiar yang bertubi-tubi hingga peluh keringat mengalir deras dan doa yang berkali-kali terucap hingga bibir terkatup lelah. Iya, iya, pasti ikhtiar dan doa sudah sama-sama
dilakukan.
Terus kenapa aku masih belum bisa menikmati hujan salju?
aq punya cerita menarik tentang kisah seorang teman. Teman sma-ku dulu
yang terkenal dengan tampang premannya. Selayaknya pemuda preman yang
begajulan, dia tampil seadanya dengan kemeja putih sma yang tidak pernah rapi, nongkrong sore di terminal, godain cewek sana-sini, dsb. Ya,
tahu lah…bukan aneh bin ajaib, si temanku itu berhasil menduduki
jabatan sebagai siswa kalangan atas. Dia beberapa kali memenangkan
olimpiade sekolah. Aku lupa, tapi setidak-tidaknya dia mungkin sudah
pernah hingga tingkat propinsi. Maklum, nyombong-nyombong nih, sma 1
xxx itu sma favorit yang prestasinya terkenal hingga nanyang university sekalipun. hehehe....1000x
Kembali ke cerita, setiap
orang-orang disekitarnya- temanku preman yang pinter itu- percaya bahwa si fulan itu memang pinter dari awalnya, emang udah bakat.
Suatu ketika temanku yang bernama lain (sebut saja fulin) menginap di rumah
si fulan. tengah malam, ketika fulin terbangun karena suatu hal
(entahlah), dia mendapati fulan sedang belajar. Buset..kamu ngapain
fulan? Tanya fulin. Jawab fulin, aku lagi baca-baca nih, iseng aja,
abisnya gak bisa tidur. Wow….si fulin nguik-nguik….pikirnya, nih orang
aneh banget, sempet-sempetnya belajar tengah malem gini…oh, pantesan ja nilainya tetep bisa dapat 100 meskipun kalo sore ngegodain orang di
terminal.
>
Ada makna besar yang aku ambil dari cerita
fulin padaku. bahwa memang benar, tidak pernah ada usaha yang tidak
terbalas. Selama ini, orang-orang di sekitar fulan menganggap bahwa
fulan adalah orang yang jenius luar biasa. Karena gak pernah belajar
aja udah pinter. Sementara, dirinya yang sudah belajar sampai jatuh
bangun sekalipun selalu saja dapat nilai pas-pasan. Kok bisa? Yah gak
mungkin bisa. Nyatanya, si fulan tetep aja belajar. Cuman, gak ada yang tahu itu. Yah, mirip kebaikan yang tak terlihat. Tuh kan, mau pinter?
Belajar dunk.
Kalian tahu? Kecerdasan seorang yahudi
itu sudah dipersiapkan sejak bayi yahudi masih dalam kandungan. Ibunya
senantiasa mengerjakan soal matematika untuk membiasakan bayi dalam
>kandungannya menggunakan otaknya. Jadi, kerja otak yahudi sudah dimulai sejak dalam kandungan. Belum lagi ketika sudah memasuki masa
kanak-kanak, seorang anak yahudi hanya boleh makan sayur dan ikan
(tradisi mereka) dan dalam porsi yang seimbang. So, itu factor
pendukung kecerdasan yahudi selain mereka juga senang belajar.
Kalo bayi jawa? Nguik---nguik- ---
Jadi,,,jadi, ,,jadi gak mungkin Allah gak adil. Allah menganugerahkan kepada kita
kesamaan kecerdasan, tetapi pada akhirnya yang membedakan kita semua
adalah usaha yang kita lakukan dengan penuh komitmen.
Aku,kamu,
dan mereka yang sedang mempersiapkan kepergian ke luar negeri,
sama-sama selalu belajar giat. Tapi benarkah sama? Yakin?
>
Siapa tahu waktu belajar sama (2 jam misalnya) tapi ada yang 1 jam ngelamun, ada yang 1 menit ngelamun, dan sebagainya. Itupun ketika kita membaca materi, ada yang membaca dengan penuh kesabaran, ada yang membaca
dengan ikhlas, ada yang membaca karena sangat ingin tahu, ada juga yang membaca karena kepepet, da yang membaca karena beban harus dapat
nilai A, dan sebagainya.
Begitu pun dalam doa, ada
yang ingin meraih sesuatu karena ingin memberikan yang terbaik untuk
orang lain, ada juga yang ingin meraih sesuatu karena ingin menunjukkan eksistensi di depan public dan sebagainya. Wallahualam
Intinya,
apapun yang kita kerjakan antara seorang yang satu dengan lainnya pasti berbeda. Bila kita gagal memperoleh sesuatu, bukan karena takdir
menghendaki demikian, tapi pasti ada yang salah pada apa yang kita
kerjakan.
aq tidak tahu pasti, tapi setidaknya niat itu motivasi tidak tertandingi.
Untuk berkarya, masih terlintang banyak jalan. Nyerah sekarang, rugi di masa depan. Berusaha sekarang, untung di masa depan. Makin banyak belajar, makin tahu apa-apa yang termasuk komponen negative dan positif. Sikap
kebijaksanaan akan mengutamakan komponen-komponen positif tersebut
>sehingga diperoleh sutau karya luar biasa. Yakin deh.
Pphuff…pengalaman berkarya bersama beberapa orang membuat koleksi pengetahuanku semakin bertambah.
Kasus 1.
Sebuah tim terdiri dari beberapa orang yang sangat bersemangat. Pengen pergi ke jepang, misalnya. Akhirnya diputuskan untuk ikut kontes perlombaan
ilmiah, misalnya. Dipilih tema dan berjalanlah kegiatan tulis menulis.
Pada akhirnya, ada yang banyak alasan sehingga tidak sempat memberi
kontribusi banyak dalam penulisan, terlupakan begitu saja. Alih-alih
yang paling parah, ketika diskusi kelompok, ketiga orang ini malah
sedang mengerjakan pekerjaan pribadi masing-masing dan berusaha saling
memberikan kesempatan teman lainnya untuk menulis pendahuluan, tinpus,
dst.
Anehnya, setiap kali 3 orang itu bertemu,
seolah-olah semangat selalu ada. Namun, mungkin sepertinya saling
mengandalkan. Alhasil, gagallah pergi ke jepang.
Aku tahu teman, kenapa hal itu terjadi.
Karena orientasi…!!!!
Orientasi mereka ingin pergi ke jepang, just it, no more. Jadi, sewaktu
mengerjakan paper saling mengandalkan orang lain, husnudzon pada teman
untuk mengerjakan paper. Karena kita sedang merasa sibuk oleh kegiatan
organisasi dan akademik. Sumpe lo???Cuma kamu yang sibuk???
>
Nah, itu loh perasaan selalu paling sibuk sehingga menghambatnya untuk
berkarya. Padahal, kita tahu bahwa kejahatan yang terorganisir akan
mengalahkan kebaikan sekalipun. Andai setiap orang merasa saling
memiliki dan saling ingin berbagi, insya Allah akan menjadi keberkahan
yang luar biasa.
Kasus 2.
Aku
pernah satu tim sama temen-temen yang aku rasa mereka tidak punya
harapan lain ikut kompetisi selain ingin coba-coba. Coba-coba menerapkan ilmu yang diperoleh. Kalau menang, ya syukur Alhamdulillah, kalau
kalah, merasa senang karena telah berusaha mencoba.
Aku pernah merasakan energy ikhlas yang dahsyat itu. Aku pernah merasakannya hingga piala tinggi berada di tangan kami.
Pada kasus 1 dan kasus 2 jelas terdapat perbedaan. Kasus pertama adalah
kelompok yang sssuuuaanngat ingin memperoleh kemenangan. Sementara kasus 2 adalah kelompok yang mengutamakan keihklasan.
Seperti orang
yang sangat ingin punya uang banyak untuk berlibur ke Amerika dan orang yang ingin punya banyak Uang untuk bisa berzakat lebih banyak. Mereka
sama-sama menjadi pengajar. Tapi niat yang membedakan mereka. Memang
tak mustahil dengan mengajar akan pergi ke Amerika. Tapi jadinya tidak
focus mengajar. Dia akan cenderung pilih-pilih job yang menguntungkan.
Capek lah.
Sementara yang ikhlas, belum apa-apa saja
sudah merasa tenang. Ngajar jadi bisa lebih focus. Akhirnya mungkin
karena suatu kondisi, akhirnya dia bisa pergi ke amerika. Kelihatan
menghayal ya???may be. Tapi aku selalu percaya kekuatan keikhlasan.
Ah, teman-teman aku bosan mendengar keluhan tentang kekalahan. Ayo dunk
diiringi dengan perbaikan semangat dan KOMITMEN…..KOMITMEN. katakana
dulu di awal untuk hal-hal yang tidak mungkin disanggupi daripada
memaksakan diri. Tapi tidak pernah memaksakan diri itu adalah sifat
manja. Biasanya kisah hidup anak manja berakhir tragis bukan? Karena
kalau di cerpen-cerpennya bobo, Cuma anak mandiri yang bisa nikah ma
pangeran.
Begitulah.
Wassalamu’alaikum wr wb
## surat ini saya terima dari kaka kelas beberapa tahun yang lalu
## thanks buat kakak yang sudah memberikan nasihat berharganya
Buat temen2 yang mau berprestasi... biar prestasinya kecatet ama malaikat sebagai amalan sholih, nih ada triknya:
1. Ikhlasunniyat harus mengiringi kita mulai dari awal berkarya hingga kesudahannya...
2. Kejar apa yang sudah diazamkan dengan "jiddiyatul 'amal"...
3. Iringi dengan doa dan tawakal...
Masalah hasil mah urusan Allah SWT..
Allah akan memberikan apa2 yang terbaik untuk kita, bukan apa2 yang kita inginkan..
Yakinlah kalo "semua kan indah pada waktunya"..
Nah... Agar waktu indah itu semakin mendekati kita, "planning" harus ttp kita kedepankan..
AYO..AYO.. DITUNGGU PRESTASI TERBAIKNYA...
PRESTASI MELIMPAH... PAHALA MELIMPAH.. INSYA ALLAH...
Mungkin ada benarnya, mari kita renungkan bersama.
Selasa, 17 April 2012
Bumiku yang Malang
Ketika kita membaca surat kabar
atau ketika mendengar cuplikan berita di televisi, maka biasanya kita disuguhkan oleh kalimat, “Terjadi Banjir
di Daerah Sana-Sini, Seorang Kakek Tua
meninggal Tertimpa Runtuhan Longsor, Petani Gagal Panen Lagi, Penjualan Motor
Laris Manis, Premium Habis, terjadi kelaparan”, demikian seterusnya. Saat ini
cuaca di Indonesia terasa tidak stabil. Kadang terasa sangat panas, namun juga
terasa dingin. Kadang panas matahari terasa sangat menyengat dan sewaktu-waktu
berubah dengan hujan deras. Perubahan iklim kian terasa. Mulanya para petani
bisa mengetahui musim untuk menanam hingga memanen. Namun kini ritme iklim
sudah berubah, badai, dan banjir sering menerjang, kita sering panen bencana.
Jika ditanya masalah utama apakah
yang menyebabkan hal ini terjadi, maka ungkapan “Pemanasan Global” sudah
menjadi jawaban yang mudah didengar. Akan tetapi apakah esensi dari pemanasan
global itu sendiri? Adakah upaya dari kita sendiri untuk mengurangi dampak
tersebut?
Ketika terjadi pelepasan kembali
radiasi sinar matahari terkendala oleh sesuatu yang bertengger di atmosfer
bumi, yakni timbunan gas seperti CO2, CO, CFC, Pb, dan NO2.
Timbunan gas ini pada gilirannya menjadikan radiasi yang dipantulkan permukaan
bumi justru terpantul ke bumi. Timbunan gas inilah yang menjebak panas matahari
dan panas yang terjebak inilah menghasilkan gejala pemanasan bumi. Hal ini juga
sering disebut dengan efek rumah kaca.
Solusi
pemanasan global dan perubahan iklim tidaklah akan memadai kalau hanya
mengandalkan pengembangan teknologi baru.Peran manusia sangat dibutuhkan. Karena manusia juga merupakan penyebab utama terjadinya
kerusakan lingkungan di permukaan bumi ini. Allah SWT pun sudah mengingatkan
kita akan hal ini.
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat:
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka
bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di bumi itu
orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami
senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan
berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al Baqarah, 2:30)
Maka
sudah selayaknya bagi kita untuk mengupayakan dampak pemanasan global. Upaya konkret yang dapat kita lakukan antara
lain:
1. Matikan lampu, televise, dan
computer, ketika tidak sedang membutuhkan. Hemat listrik hemat biaya.
2. Berjalan kaki atau bersepeda. Ini akan mengurangi
emisi gas yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor. Kalaupun butuh menggunakan
kendaraan, pilih bahan bakar yang ramah lingkungan serta upaya perawatan
kendaraan agar tidak menghasilkan gas Pb berlebih.
3.
Mendaur ulang barang bekas. Kurangi penggunaan kertas berlebih.
4.
Kurangi penggunaan AC
5.
Menanam pohon. Dengan menanam pohon berarti kita ikut berpartisipasi
dalam menjaga alam
ini.
6.
Tidak menebang pohon sembarangan
Sudah saatnya bagi kita untuk
beraksi. let’s go green ^^
Langganan:
Postingan (Atom)

